Batiksantri


KISAH PERTEMPURAN ANTARA SEORANG LELAKI DAN IBLIS

Ditulis dalam Uncategorized oleh batiksantri pada September 10, 2007

Pada awalnya suami isteri itu hidup tenteram. Meskipun melarat, mereka taat kepada perintah Allah. Segala yang dilarang Allah dihindari, dan ibadah mereka tekun sekali. Si Suami adalah seorang yang alim yang taqwa dan tawakkal. Tetapi sudah lama isterinya mengeluh karena kemiskinan yang tiada habis-habisnya itu. Ia memaksa suaminya agar mencari jalan keluar. Ia membayangkan alangkah senangnya jika hidup serba berkecukupan.
Pada suatu hari, lelaki yang alim itu berangkat ke ibu kota, mau mencari pekerjaan. Di tengah perjalanan ia melihat sebatang pohon besar yang tengah dikerumuni orang. Ia mendekat. Ternyata orang-orang itu sedang memuja-muja pohon yang konon keramat dan sakti itu. Banyak juga kaum wanita dan pedagang-pedagang yang meminta-minta agar suami mereka setia atau dagangannya laris.

“Ini syirik,” pikir lelaki yang alim tadi. “Ini harus dibrantas habis. Masyarakat tidak boleh dibiarkan menyembah serta meminta selain kepada Allah.” Maka pulanglah dia dengan terburu-buru. Isterinya heran, mengapa secepat itu suaminya kembali. Lebih heran lagi waktu dilihatnya si suami mengambil sebilah kapak yang diasahnya tajam. Lantas lelaki alim tadi bergegas keluar. Isterinya bertanya tetapi ia tidak menjawab. Segera dinaiki nya keledainya dan dipacu cepat-cepat ke pohon itu. Sebelum sampai di tempat pohon itu berdiri, tiba-tiba melompat sesosok tubuh tinggi besar dan hitam. Dia adalah iblis yang menyerupai seorang manusia.

“Hai, mau ke mana kamu?” tanya si iblis.
Orang alim tersebut menjawab, “Saya mau menuju ke pohon yang disembah-sembah orang bagaikan menyembah Allah. Saya sudah berjanji kepada Allah akan menebang pohon syirik itu.”
“Kamu tidak ada apa-apa hubungan dengan pohon itu. Yang penting kamu tidak ikut-ikutan syirik seperti mereka. Sudah pulang saja.”
“Tidak boleh, kemungkaran mesti dibrantas,” jawab si alim dengan tegas.
“Berhenti, jangan teruskan!” bentak iblis marah.

“Akan saya teruskan!”
Karena masing-masing tegas pada pendiriannya, akhirnya terjadilah perkelahian antara orang alim tadi dengan iblis. Kalau melihat dari perbedaan badannya, seharusnya orang alim itu dengan mudah bisa dikalahkan oleh iblis itu. Namun ternyata iblis menyerah kalah, meminta-minta ampun. Kemudian dengan berdiri menahan sakit dia berkata, “Tuan, maafkanlah kekasaran saya. Saya tak akan berani lagi mengganggu tuan. Sekarang pulanglah. Saya berjanji, setiap pagi, apabila Tuan selesai menunaikan sholat Subuh, di bawah tikar tempat Tuan Sholat akan saya sediakan uang emas empat dinar. Pulang saja cepat, jangan teruskan niat Tuan itu dulu,”

Mendengar janji iblis dengan uang emas empat dinar itu, lunturlah tekad si alim tadi. Ia teringatkan isterinya yang ingin hidup berkecukupan. Ia teringat akan setiap hari rengekan isterinya. Setiap pagi empat dinar, dalam sebulan saja dia sudah bisa menjadi orang kaya. Mengingat desakan-desakan isterinya itu maka pulanglah dia. Musnahlah sudah niat semula yang hendak membrantas kemungkaran.
Demikianlah, semejnak pagi itu isterinya tidak pernah marah lagi. Hari pertama, ketika si alim selesai sholat, dibukanya tikar tempatnya sholat. Betul di situ tergolek empat benda berkilau, empat dinar uang emas. Dia meloncat riang, isterinya gembira. Begitu juga hari yang kedua. Empat dinar emas. Ketika pada hari yang ketiga, matahari mulai terbit dan dia membuka tikar tempatnya sholat, masih didapatinya uang itu. Tapi pada hari keempat dia mulai kecewa. Di bawah tikar tempatnya sholat tidak ada apa-apa lagi keculai tikar pandan yang rapuh. Isterinya mulai marah karena uang yang kemarin sudah dihabiskan sama sekali.

Si alim dengan lesu menjawab, “Jangan kuatir, besok mungkin kita akan dapat delapan dinar sekaligus.”
Keesokkan harinya, harap-harap cemas suami-isteri itu bangun pagi-pagi. Selesai sholat subuh dibuka tikar sejadahnya kosong.
“Kurang ajar. Penipu,” teriak si isteri. “Ambil kapak, tebanglah pohon itu.”
“Ya, memang dia telah menipuku. Akan aku tebang habis pohon itu semuanya hingga ke ranting dan daun-daunnya,” sahut si alim itu.
Maka segera ia mengeluarkan keledainya. Sambil membawa kapak yang tajam dia memacu keledainya menuju ke arah pohon yang syirik itu. Di tengah jalan iblis yang berbadan tinggi besar tersebut sudah menghalang. Matanya melihat tajam, “Mau ke mana kamu?” katanya menggelegar.

“Mau menebang pohon,” jawab si alim dengan gagah berani.
“Berhenti, jangan lanjutkan.”
“Bagaimanapun juga kamu tidak boleh menebang pohon itu.”
Maka terjadilah kembali perkelahian yang hebat. Tetapi kali ini bukan iblis yang kalah, tapi si alim yang kalah. Dalam kesakitan, si alim tadi bertanya penuh heran, “Dengan kekuatan apa engkau dapat mengalahkan saya, padahal dulu engkau tidak berdaya sama sekali?”
Iblis itu dengan angkuh menjawab, “Tentu saja dulu engkau bisa menang, karena waktu itu engkau keluar rumah untuk Allah, demi Allah. Andaikata kukumpulkan seluruh tentaraku menyerangmu sekalipun, aku takkan mampu mengalahkanmu. Sekarang kamu keluar dari rumah hanya karena tidak ada uang di bawah tikar sejadahmu. Maka biarpun kau keluarkan seluruh keahlianmu, tidak mungkin kamu mampu mengalahkanku. Pulang saja. Kalau tidak, kupatahkan batang lehermu.”

Mendengar penjelasan iblis ini si alim tadi termangu-mangu. Ia merasa bersalah, dan niatnya memang sudah tidak ikhlas kerana Allah lagi. Dengan terhuyung-hayang ia pulang ke rumahnya. Ia pun membatalakn niatnya semula untuk menebang pohon itu. Ia sadar bahwa perjuangannya yang sekarang adalah tanpa keikhlasan dan bukan karena Allah, dan ia sedar perjuangan yang semacam itu tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kesia-siaan belaka. Sebab tujuannya adalah karena harta benda, bukan karena Allah dan agama. Bukankah bererti ia menyalahgunakan agama untuk kepentingan hawa nafsunya semata-mata ?

“Barangsiapa di antaramu melihat sesuatu kemungkaran, hendaklah (berusaha) memperbaikinya dengan tangannya (kekuasaan), bila tidak mungkin hendaklah berusaha memperbaikinya dengan lidahnya (nasihat), bila tidak mungkin pula, hendaklah mengingkari dengan hatinya (tinggalkan). Itulah selemah-lemah iman.”
Hadith Riwayat Muslim

Tinggalkan Balasan