Batiksantri


Lagu Gothic….

Ditulis dalam Uncategorized oleh batiksantri pada Maret 11, 2008

Wuih ternyata ada juga orang di lab yang suka musik sepertiku…

mungkin musik yang kusuka agak berbeda dengan musik yang banyak orang suka…GoThic Rock euy!!!!

mungkin di indonesia grup band beraliran gothic yang terkenal cuma Evanesence n Cranbaries

Padahal di luar sana masih sangat banyak grup2 band yang beraliran sama

mungkin ada yang tau grup band seperti Nightwish, Xandria, Theatre of tragedy, Within Temptation, dll…

kebanyakan orang pasti ga tau grup2 band itu….

contoh yang tadi itu beberapa grup band luar yang beraliran gothic rock…

keren-keren euy lagunya…

ini ada salah satu contoh :

Nightwish – Phantom of The Opera

Nightwish – Amarath

Within Temptation – hands of sorrow

Theatre Of Tragedy – Storm

Kisah “Yu Timah”

Ditulis dalam Uncategorized oleh batiksantri pada Maret 5, 2008

(dicuplik dari RESONANSI – Republika Desember 2006/Ahmad Tohari)

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri. Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.

Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.

Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

(lagi…)